Wednesday, 17 October 2018

Perkembangan Anak Umur 3 – 4 Tahun

Di usia 3 tahun, anak yang sehat, bergizi baik dan tumbuh di lingkungan yang baik memiliki 1.000 trilyun sinapsis di otaknya. Aktivitas otak anak sudah tidak seaktif umur 0 – 3 tahun. Beberapa sinapsis ini akan menjadi semakin kuat terbentuk namun banyak sinapsis akan menghilang perlahan selama masa pertumbuhan anak. Pada masa remaja biasanya tinggal separuh saja sinapsis yang tetap ada.
Anak umur 3 tahun memiliki energi yang melimpah dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Dia ingin mengetahui tentang segala sesuatu sehingga kita akan sering mendengar dia bertanya: “Ini apa?”
  • Anak mampu melakukan banyak hal sekarang: berjalan, berlari, memanjat, menendang dan melompat dengan mudah. Anak mampu turun tangga dengan baik.
  • Bisa naik sepeda sendiri
  • Bisa memakai baju sendiri
  • Bisa menggambar garis
  • Bisa membuka pintu sendiri saat pintu tidak dikunci
  • Mengenali dan mengidentifikasi benda dan gambar dengan menunjuk
  • Banyak bicara dan sering bertanya
  • Menguasai sekitar 900 kata. Membuat kalimat dengan dua atau tiga kata. Memahami kalimat dengan 2 anak kalimat (“Sampai rumah kita bisa bermain bola.”)
  • Menyebutkan nama dan umurnya sendiri
  • Menyebutkan warna
  • Memahami angka
  • Bisa bermain peran “pura-pura seolah-olah” dengan benda/mainannya
  • Makan sendiri
  • Bisa memperhatikan sesuatu lebih lama
  • Memiliki ketrampilan berpikir yang lebih baik untuk menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi: anak dapat mengingat kejadian yang telah berlalu “kemarin”, bisa mengarang cerita, bisa mulai berpikir logis.
  • Mengetes kemampuan fisik dan keberaniannya dengan kehati-hatian
  • Mengungkapkan ekspresi cinta kasih sayang.
  • Senang bermain bersama temannya tapi seringkali suka berebut, tidak senang berbagi dan mengembalikan barang milik teman lain. Mulai memiliki 1 – 2 teman dekat. Memahami setiap orang itu sama meski memiliki perbedaan: tua-muda, besar-kecil.
  • Umur 4 tahun biasanya anak sudah mulai bisa berbagi dengan orang lain
  • Anak sudah bisa menggunakan toilet sendiri
  • Umur 4 tahun anak sudah bisa menggunting, menangkap  2 dari 3 lemparan bola

Batasi anak melihat televisi:

Semakin sering anak melihat TV akan semakin sering dia meminta snack/jajan yang dia lihat di iklan TV. Ini akan berisiko merusak kebiasaan makan-baiknya. Pastikan acara yang dilihat adalah acara yang sesuai untuk anak. Terlalu banyak melihat TV juga akan mengurangi waktunya untuk bermain-belajar hal yang lain.
  • Sering mengajak anak membaca dan melihat buku; ajak anak bercerita tentang gambar yang terlihat di buku yang dibaca
  • Bacakan kisah dongeng, ajak anak berdendang lagu-lagu sederhana
  • Berikan anak piring atau mangkuknya sendiri saat makan
  • Ajak dan beri semangat anak untuk makan, berikan anak waktu makan sesuai yang dia inginkan
  • Bantu anak untuk memakai baju, menggunakan toilet, mencuci tangan dengan sabun setelah dari toilet dan setiap akan makan.
  • Beri perhatian pada stimulus perkembangan motorik halus
  • Dengarkan dan jawab pertanyaan anak
  • Beri semangat anak untuk bermain, menggambar dan membuat sesuatu sesuai kreativitasnya.
  • Berikan anak tugas sederhana seperti mengembalikan mainan di tempatnya, merapikan sandal, dll untuk mengenalkan rasa tanggung jawab
  • Batasi menonton televisi dan pastikan anak tidak melihat adegan kekerasan.
  • Latih untuk bekerja sama dengan saling membantu dan berbagi
  • Beritahukan serta beri semangat anak untuk berperilaku positif dan orang tua membuat batasan yang jelas.
  • Berikan curahan cinta dan kasih sayang yang konsisten setiap hari.
  • Jika memungkinkan maka orang tua bisa mendaftarkan anak di tempat pendidikan anak usia dini supaya anak bisa beraktivitas sambil belajar bersama teman-teman sebayanya.
Saudara kandung adalah teman-pertama bagi anak, meskipun terkadang mereka bertengkar heboh. Hubungan persaudaraan akan mengajarkan anak untuk berbagi dan bekerja sama juga bersaing dan saling mengasihi.
Jika ada bayi baru di rumah biasanya kakak batita akan cemburu. Maka pastikan ibu dan ayah menyampaikan kepada anak bahwa dia tetap disayangi, dicintai dan adil dalam berbagi perhatian. Luangkan waktu khusus bersamanya. Libatkan anak yang lebih besar dalam mengurus adik bayi.
Segera bawa anak ke klinik tumbuh kembang jika:
  • Anak tidak tertarik untuk bermain
  • Sering terjatuh
  • Sulit bermain dengan benda-benda kecil
  • Gagal atau tidak bisa memahami pesan atau perintah sederhana
  • Tidak bisa berbicara menggunakan beberapa kata dalam kalimat
  • Sulit atau susah makan
Bagi anak 4 tahun:
  • Tidak mampu melempar bola dengan tangan
  • Tidak mampu lompat di tempat
  • Tidak mampu naik sepeda
  • Tidak mampu memegang krayon dengan jempol dan telunjuk
  • Sulit menumpuk 4 balok susun
  • Sangat sulit berpisah dari orang tua untuk ditinggal sementara
  • Tidak tertarik diajak bermain
  • Tidak tertarik bermain bersama anak lain
  • Tidak merespons orang selain keluarga inti
  • Sulit terlibat saat diajak bermain peran
  • Kesulitan memakai baju, tidur dan menggunakan toilet sendiri
  • Sulit mengontrol emosi saat nangis atau mengamuk
  • Tidak mampu menirukan gambar lingkaran
  • Tidak bisa membuat kalimat lebih dari 3 kata
  • Tidak bisa membedakan istilah “saya” dan “kamu”
  • Mendadak kehilangan ketrampilan yang semula telah dikuasainya.




Friday, 26 September 2014

Ibu Bekerja, Fokus Karir atau Anak???


Wanita karir yang memiliki anak diketahui mengalami dilema saat menjalani hidupnya. Wanita karir yang menjadi seorang ibu diduga menjadikan karir sebagai pelarian karna stres mengurus anak dan rutinitas dalam rumah.

Dilema wanita karir ini terjadi ketika mereka memiliki anak. Konsenstrasi yang biasanya terfokus pada karir terpecah dengan kehadiran anak. Mereka harus membagi diri untuk urusan rumah tangga, karir dan anak. Menjadi ‘wanita super’ seperti ini pasti menimbulkan masalah dalam pribadi dan rumah tangganya.

Jajak pendapat ‘Mom Secrets’ yang dilakukan oleh Today dan Parentingdotcom pada 13 hingga 20 Juni 2011 diketahui bahwa, muncul dilema antara benci dan cinta saat ibu bekerja. Di satu sisi, mereka mengeluhkan waktu yang terkuras di tempat kerja. Di sisi lain, si ibu juga kerap menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk melarikan diri dari rutinitas rumah tangga dan mengurus anak.
Pekerjaan bisa dijadikan alasan untuk menghindar dari pertengkaran anak, mengganti popok, atau kerewelan balita mereka. Saat-saat seperti itu membuat sang ibu membayangkan suasana kerja sebagai dunia yang tenang.

Jajak pendapat dua lembaga ini menemukan bahwa, ibu yang bekerja mengalami emosi yang rumit perihal rumah tangga. Dari 26.000 ibu yang menjadi responden jajak pendapat, diketahui 74 persen diantaranya mengatakan mereka bekerja di luar rumah.

Berikut rincian hasil jajak pendapat yang diperoleh, (1) sebanyak 42 persen responden mengatakan mereka lebih senang menambah 50 persen waktu di tempat kerja dari pada menghabiskan waktu dengan anak-anaknya; (2) 20 persen ibu yang bekerja menilai ibu lain juga terlalu sibuk bekerja; (3) satu dari lima ibu pekerja mengatakan bahwa akan memilih karir yang fleksibel andaikata harus berhenti bekerja dari kantornya. Sedangkan satu dari 10 ibu pekerja mengakui ingin berkonsentrasi pada karir yang ditekuninya selama ini; (4) kurang lebih sepertiga dari ibu pekerja tersebut mengakui bahwa bekerja merupakan cara untuk melarikan diri dari aktivitas mengasuh anak.
Jajak pendapat ‘Mom Secrets’ ini juga merekam beberapa ungkapan benci dan cinta dari ibu yang bekerja. Salah seorang ibu, anonim, menuliskan: “Saya sedih karena harus bekerja seharian penuh di kantor. Tetapi saat pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan anak, saya malah merasa stres, lelah dan bahkan kewalahan,” ujarnya.

Ibu pekerja lainnya mengakui bahwa memilih untuk menitipkan anaknya sebagai solusi terbaik karena ia benar-benar mencintai pekerjaannya. Di sisi lain, diam-diam berharap bisa mengurus anaknya.
Sedangkan ibu lainnya mengaku dengan tulus namun ironis, “Saya merasa bersalah karena setiap hari harus pergi bekerja, jauh dari anak.”
Kecemasan tentang karir bagi seorang ibu lebih banyak didorong oleh pandangan masyarakat. Masyarakat memandang bahwa wanita, apalagi seorang ibu, sudah wajib untuk mengurus anak, keluarga dan rumah tangganya.

“Banyak wanita yang senang bekerja sambil mengurus anak dan rumah. Sayangnya, mereka kerap memperlihatkan wajah sedih kepada semua orang dan kepada dunia,” terang dalam laporan jajak pendapat dua lembaga Today dan Parentingdotcom.